Rabu, 13 Januari 2016

LINGKUNGAN BELAJAR YANG EFEKTIF


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Puji syukur kehadirat Allah Swt yang senantiasa melimpahkan nikmatnya serta kasih sayangnya kepada kita semua. Shalawat serta salam juga tidak lupa selalu kita haturkan kepada junjungan kita nabi Muhammad Saw. Beserta keluarga dan sahabat serta pengikut beliau hingga akhir jaman.

Dalam hal ini kami ingin menyampaikan hasil daripada tugas yang dibebankan tentang sebuah judul materi yaitu “Lingkungan belajar yang efektif”. Dari mata kuliah Psikologi Pendidikan. Dalam penyusunan ini kemungkinan banyak terdapat kekeliruan maka dari itu kami berharap kritik dan saran yang baik.

Demikian sepatah duapatah kata yang bisa kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh.



Penulis





Banjarmasin, 24 Februari 2015





A. Latar Belakang Masalah

Lingkungan merupakan bagian dari anak didik dalam lingkunganlah anak didik hidup dan berinterkasi dalam mata rantai kehidupan. Saling ketergantungan antara lingkungan biotik dan abiotik tidak dapat dihindari.

Itulah hukum alam yang harus dihadapi oleh peserta didik sebagai makhluk hidup yang tergolong kelompok biotic.

Terciptanya lingkungan belajar yang efektif merupakan suatu keharusan agar tercapai hasil belajar yang diinginkan, karena dari itu di sini kami mencoba menguraikan secara sederhana sesuai kemampuan kami tentang pembahasan lingkungan belajar yang Efektif, karena kami juga seorang anak didik. Maka tidak salah jika kita harus membicarakan pembahasan tersebut.



B. Rumusan Masalah

1. Apa itu Lingkungan belajar yang Efektif?



C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui apa saja yang yang berkaitan dengan Lingkungan belajar yang efektif.







A. Pengertian Lingkungan Belajar

Belajar adalah kegiatan yang memerlukan konsentrasi tinggi. Tempat dan lingkungan belajar yang nyaman memudahkan peserta didik untuk berkonsentrasi. Dengan mempersiapkan lingkungan yang tepat, peserta didik akan mendapatkan hasil yang lebih baik dan dapat menikmati proses belajar yang peserta didik lakukan.
Hutabarat (1986) lingkungan belajar ialah segala sesuatu yang terdapat di tempat belajar. Sedang Nasution (1993), lingkungan belajar yaitu lingkungan alami dan lingkungan sosial.

Lingkungan alami seperti keadaan suhu, kelembaban udara, sedangkan lingkungan sosial dapat berwujud manusia dan representatifnya maupun berwujud hal-hal lain. Prestasi belajar itu salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan belajar. Menurut Dunn dan Dunn (dalam Mudhofir, 1999) kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi, pencerapan, dan penerimaan informasi. Senada dengan hal di atas Rachman (1998/1999) menyatakan lingkungan fisik tembat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran.

Menata lingkungan belajar pada hakekatnya melakukan pengelolaan lingkungan belajar. Aktivitas pembelajar dalam menata lingkungan belajar lebih terkonsentrasi pada pengelolaan lingkungan belajar di dalam kelas. Oleh karena itu pembelajar/guru dalam melakukan penataan lingkungan belajar di kelas tiada lain melakukan aktivitas pengelolaan kelas atau manajemen kelas (classroom management). Menurut Rianto (2007:1), pengelolaan kelas merupakan upaya pendidik untuk menciptakan dan mengendalikan kondisi belajar serta memulihkannya apabila terjadi gangguan dan/atau penyimpangan, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal.

Lingkungan belajar harus menarik dan mampu membangkitkan gairah belajar serta menghadirkan suasana yang nyaman untuk belajar. Kelas belajar harus bersih, tempat duduk ditata sedemikian rupa agar anak bisa melakukan aktivitas belajar dengan bebas.

Dinding kelas dicat berwarna sejuk, terpampang gambar-gambar atau foto yang mendukung kegiatan belajar seperti gambar pahlawan, lambang negara, presiden dan wakil presiden, kebersihan lingkungan, famlet narkoba, dan sebagainya.



Salah satu aspek penting keberhasilan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh pembelajar/guru menurut Muhammad Saroni (2006:81-82), adalah penciptaan kondisi pembelajaran yang efektif. Kondisi pembelajaran efektif adalah kondisi yang benar-benar kondusif, kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung kelancaran serta kelangsungan proses pembelajaran.

Lingkungan pembelajaran mencakup dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial, kedua aspek lingkungan tersebut dalam proses pembelajaran haruslah saling mendukung, sehingga peserta didik merasa kerasan di sekolah dan mau mengikuti proses pembelajaran secara sadar dan bukan karena tekanan ataupun keterpaksaan.
Berbagai penelitian lingkungan belajar di atas dapat bahwa lingkungan belajar merupakan situasi buatan yang menyangkut lingkungan fisik maupun yang menyangkut lingungan sosial. Dengan demikian lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikain rupa, sehingga mampu memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar.

Berdasarkan uraian pendapat tentang lingkungan belajar tersebut di atas maka dapat disarikan bahwa lingkungan belajar yang dikelola adalah terutama bagaimana mengemas suasana kelas belajar, kelas belajarnya, dan sumber-sumber belajar yang ada di sekolah ataupun yang dapat diadakan dari dibuat/alam lingkungan sekolah.

Lingkungan belajar dalam hal terutama di kelas adalah sesuatu yang diupayakan atau diciptakan oleh guru agar proses pembelajaran kondusif dapat mencapai tujuan pembelajaran yang semestinya. Lingkungan belajar di kelas sebagai situasi buatan yang berhubungan dengan proses pembelajaran atau konteks terjadinya pengalaman belajar, dapat diklasifikasikan yang menyangkut :

1) lingkungan (keadaan) fisik, dan 2)

2) lingkungan sosial.

Dengan demikian lingkungan belajar merupakan situasi buatan yang menyangkut lingkungan fisik maupun yang menyangkut lingungan sosial. Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikain rupa, sehingga mampu memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar.

Selanjutanya lingkungan belajar dapat dilihat dari interaksi dalam proses pembelajaran yang merupakan konteks terjadinya pengalaman belajar, dan dapat berupa lingkungan fisik_dan_lingkungan_nonfisik.



Lingkungan fisik.

Menurut Muhammad Saroni (2006:82-83), yang intinya bahwa lingkungan fisik adalah lingkungan yang memberi peluang gerak dan segala aspek yang berhubungan dengan upaya penyegaran pikiran bagi peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran yang sangat membosankan.

Lingkungan fisik ini meliputi saran prasarana pembelajaran yang dimiliki sekolah seperti lampu, ventilasi, bangku, dan tempat duduk yang sesuai untuk peserta didik, dan lain sebagainya.

B. Macam-macam Lingkungan

Pada umumnya seorang anak pasti terpengaruh oleh lingkungannya. Adapun macam-macam lingkungan itu adalah:

1. Lingkungan keluarga

2. Lingkungan sekolah

3. Lingkungan kampong

4. Limgkungan perkumpulan pemuda

5. Lingkungan Negara dan sebagainya.[1]

Sartain (seorang ahli psikologi Amerika) mengatakan bahwa apa yang dimaksud dengan lingkungan ialah meliputi ssemua kondisi-kondisi dalam dunia ini yang dalam cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes kita kecuali gen-gen dan bahkan gen-gen dapat pula dipandang sebagai menyiapkan lingkungan bagi gen yang lain.

Menurut definisi yang luas ini, ternyata di dalam lingkungan kita/di sekitar kita tidak hanya terdapat sejumlah besar fakto-faktor pada suatu saat, tetapi terdapat pada faktor-faktor lain yang banyak sekali, yang secara potensial sanggup/dapat mempengaruhi kita, akan tetapi lingkungan kita yang aktual (yang sebenarnya) hanyalah faktor-faktor dalam dunia sekeliling kita yang benar-benar mempengaruhi kita.

Menurut Sartain lingkungan itu dapat dibagi menjadi 3 bagian sebagai berikut:

1. Lingkungan alam/luar,

2. Lingkungan dalam,

3. Lingkungan sosial.

Yang dimaksud dengan lingkungan alam/luar ialah segala sesuatu yang ada dalam dunia ini yang bukan manusi, seperti: rumah, tumbuh-tumbuhan, air, iklim, hewan, dan sebagainya.

Yang dimaksud dengan lingkungan dalam ialah segala sesuatu yang termasuk lingkungan luar/alam. Akan tetapi makanan yang sudah di dalam perut kita, kita katakan berada antara external dan internal environmentkita. Karena makanan yang sudah dalam perut itu sudah/sedang dalam pencernaan dan peresapan ke dalam pembuluh-pembuluh darah. Makanan dan air yang telah berada di dalam pembuluh-pembuluh darah atau di dalam cairan limpa, mereka mempengaruhi tiap-tiap sel di dalam tubuh, dan benar-benar termasuk ke dalam lingkungan dalam, jadi sesungguhnya sangat sulit bagi kita untuk menarik batas yang tegas antara “diri kita sendiri” dengan “lingkungan kita”.

Yang dimaksud dengan lingkungan sosial ialah semua orang atau manusia lain yang mempenngaruhi kita. Pengaruh lingkungan sosial itu ada yang kita terima secara langsung dan ada yang tidak langsung. Pengaruh secara langsung, seperti dalam pergaulan sehari-hari dengan orang lain, dengan keluarga kita, teman-teman kita, dan sebagainya. Yang tidak langsung, melalui radio dan televisi, dengan membaca buku-buku, majalah-majalah, surat kabar, dan sebagainya.

Masing-masing dari pada kita, terutama dalam hal kepribadian kita adalah hasil interaksi antar gen-gen dan lingkungan sosial kita, karena interaksi ini maka tiap-tiap orang adalah unik; tiap orang memiliki kepribadian sendiri-sendiri yang berbeda-beda satu sama lain. Jika dalam hal individu-individu yang memiliki beberapa gen yang sama atau bersamaan lingkungan sosialnya, interaksi itu menghasilkan variasi-variasi/perbedaan-perbedaan yang luas dalam personality. Anak kembar yang mempunyai lingkungan sosial yang sama dan beberapa gen-gen yang bersamaan, serta anak kembar satu telur yang memiliki heredity yang sama dan lingkungan sosial yang berbeda-beda, kepribadiannya menunjukkan perbedaan yang nyata.



C. Lingkungan Belajar

1. Lingkungan rumah

Lingkungan rumah terutama orang tua, memegang peranan penting serta menjadi guru bagi anak dalam mengenal dunianya. Orang tua adalah pengasuh, pendidik dan membantu proses sosialisasi anak. Utami Munandar (1999) mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, maka semakin baik prestasi anak

Lingkungan belajar di rumah mempunyai pengaruh besar terhadap kegiatan belajar anak di rumah, yang pada akhirnya mempengaruhi prestasi belajar anak di sekolah Slameto (1995) mempertegas bahwa

1) rungan belajar harus bersih, tak ada bau-bauan yang mengganggu konsentrasi pikiran, ruangan cukup terang, tidak gelap yang dapat mengganggu mata, cukup sarana yang diperlukan untuk belajar, misalnya alat pelajaran, buku-buku.
2)_Penerangan
Ruang belajar harus mendapat cahaya baik cahaya mata hari mupun cahaya dari lampu listrik. Cahaya sangat penting bagi kegiatan belajar, dengan cahaya kita dapat membaca dan menulis dengan jelas.

3)_Ventilasi_dan_suhu_udara
Ventilasi atau pertukaran udara merupakan hal penting dalam ruang belajar. Ventilasi dapat menjadikan udara di ruangan menjadi bersih dan segar. Ruangan belajar dengan udara yang bersih dan segar akan menjadi pendukung kegiatan belajar yang nyaman.

4)­_Kebisingan
Tempat belajar sebaiknya tenang tidak banyak gangguan suara bising dan gaduh. Suara bising dan gaduh dapat mengganggu konsentrasi belajar. Slameto (1995) “Rumah yang bising dengan suara radio, tape recorder atau TV pada waktu belajar, juga mengganggu belajar anak, terutama untuk konsentrasi.

5)_Perabotan_belajar
Perabotan yang disediakan dan ditata dengan baik sangat mendukung terhadap hasil belajar. Mengenai jumlah dan jenis perabotan belajar beberapa ahli mengemukakan berbeda-beda, namun pada intinya sama yaitu peralatan yang menunjang belajar.

6. Kursi dan meja belajar

Agar kegiatan belajar berlangsung dengan penuh konsentrasi, di ruang belajar harus ada kursi dan meja belajar untuk anak-anak. Banyak model kursi dan meja belajar yang sering kita jumpai. Karena usia anak sekolah dasar masih dalam pertumbuhan dan perkembangan seyogyanya kalau orang tua menyediakan kursi belajar dengan memperhatikan faktor pertumbuhan dan kesehatan. Dalam hal ini Sudarmanto (1995) memberi saran agar kursi untuk belajar harus dapat menampung punggung tegak. Tempat duduk yang nyaman membuat anak kerasan dan memiliki mood untuk belajar”
7) Almari dan rak buku

Almari dan rak buku merupakan perabotan yang dapat menunjang kegiatan belajar. Fungsi dari almari dan rak buku adalah untuk menyimpan buku-buku sebagaimana The Liang Gie (1994) semua bacaan hendaknya disimpan dalam rak buku kecil di sisi meja studinya atau di atasnya dengan menempel pada tembok.

8) Perlengkapan belajar

Dengan tersedianya perlengkapan belajar seseorang dalam belajar tidak begitu mengalami kesulitan bila memerlukan peralatan. Menurut The Liang Gie (1995) perlengkapan studi merupakan faktor kebendaan. Kalau perlengkapan studi tidak ada manfaatnya, sebaiknya perlengkapan itu tidak dipakai saja.
9) Tanaman dan pohon pelindung

Tanaman dan pohon pelindung bila kita pelihara dengan baik akan bermanfaat bagi manusia terutama dapat membuat lingkungan belajar menjadi sejuk dan nyaman.









2. Lingkungan sekolah

Ada beberapa karakteristik lingkungan sekolah yang nyaman sebagai tempat belajar (Burstyn & Stevens dalam Ormrod, 2006) , yaitu:

1) Sekolah mempunyai komitmen untuk mendukung semua usaha peserta didik agar sukses baik dalam bidang akademik maupun sosial.

2) Adanya kurikulum yang menantang dan terarah.
3) Adanya perhatian dan kepercayaan peserta didik serta orang tua terhadap sekolah.

4) Adanya ketulusan dan keadilan bagi semua peserta didik, baik untuk peserta didik dengan latar belakang keluarga yang berbeda, beda ras maupun etnik.

5) Adanya kebijakan dan peraturan sekolah yang jelas. Misalnya panduan perilaku yang baik, konsekuensi yang konsisten, penjelasan yang jelas, kesempatan menjalin interaksi sosial serta kemampuan menyelesaikan masalah.
6) Adanya partisipasi peserta didik dalam pembuatan kebijakan sekolah.

7) Adanya mekanisme tertentu sehingga peserta didik dapat menyampaikan pendapatnya secara terbuka tanpa rasa takut.
8) Mempunyai tujuan untuk meningkatkan perilaku prososial seperti berbagi informasi, membantu dan bekerja sama.
9) Membangun kerja sama dengan komunitas keluarga dan masyarakat.
10) Mengadakan kegiatan untuk mendiskusikan isu-isu menarik dan spesial yang berkaitan dengan peserta didik.
Sedangkan di kelas, sebaiknya kelas cukup besar dengan jumlah peserta didik yang tidak terlalu banyak sehingga guru dapat memonitor setiap peserta didik. Kelas yang baik dan produktif adalah kelas yang nyaman secara tata ruang, memunculkan motivasi internal peserta didik untuk belajar, kegiatan guru yang terarah serta kegiatan monitor terhadap peserta didik (Gage & Berliner, 1992).


D. Lingkungan Belajar yang Efektif

Terjadinya proses pembelajaran yang kondusif tidak terlepas dari tersedianya lingkungan pembelajaran yang efektif pula. Lingkungan Pembelajaran meliputi beberapa hal sebagai berikut:
1. Management Kelas

Kontribusi antara strategi guru dalam manajemen kelas meliputi tingkat kehadiran, peraturan sekolah dan kelas, respon guru terhadap pendapat siswa, instruksi yang memperbaiki suasana belajar siswa
2. Persistensi dari Masalah Manajemen

Orang tua pemimpin sekolah dan guru telah mengedentifikasi kedisiplinan siswa adalah masalah kritis di sekolah dan pemimpin dalam kelas pun mendukung pernyataan tersebut. Beberapa peninjauan menemukan lebih dari 50% siswa yang tidak diberikan tugas tiap waktu. Guru pemula menandai management adalah masalah utama. Tujuan dari pengaturan kelas
1.Ketika guru mengatur kelas mereka, mereka memiliki dua tujuan penting. Pertama membuat pengajaran berbasis lingkungan yang terbaik.

2.Tujuan kedua dari pengaturan kelas adalah untuk mengembangkan respon siswa dan peraturan diri. Sistem pengaturan yang efekif membantu siswa menumbuhkan kemampuan mereka untuk mengatur pengajaran dan mengontrol diri.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat perencanaan kelas, meliputi:

1.Karakteristik siswa

2. Prosedur penstabilan

Penerapan prosedur intensitas siswa akan ikut pada aktivitas sehari-harinya seperti bagaimana siswa menyelesaikan ujian. Bagaimana meraut pensilnya, bagaimana membuat transisi dari aktivitas yang satu dan aktivitas lainnya. Standar perbaikan perilaku seperti mendengarkan seseorang ketika berbicara.





3. Lingkungan fisik

a. Penglihatan kedepan ruangan harus disusun sehingga semua siswa dapat melihat ke papan tulis, OHP dan tampilan yang lain.
b. Keterjangkauan untuk meningkatkan area lintas tinggi seperti rautan pensil, pintu kelas dan daya tampung ruang serta harus dijaga kebersihan dan terpisah dengan yang lain
c. Untuk sekolah dasar (SD) harus mempunyai tempat menyimpan pekerjaannya di dalam laci tanpa diganggu oleh siswa lain

4. Pembuatan peraturan yang efektif

a. Rencanakan pelan-pelan tata cara kelas kamu dan aturan sebelum tahun dimulai

b. Pikirkan pembangunan setingkat dengan siswa kamu dalam persiapan dan mengajar aturan mengajar dan tata caranya.

Peraturan kelas dan sekolah mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:

1. Konsisten

Peraturan kelas dan sekolah harus konsisten. Contoh: jika sekolah menghendaki siswa di luar kelas maka dengan sendirinya guru harus mempertegasnya.

2. Keteraturan



Peraturan harus jelas sehingga tidak bermakna ganda.
3. Rasional

Harus jelas dan masuk akal Rencana tata cara dan aturan dalam kelas, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tata cara atau aturan kelas dibuat sebelum masuk sekolah hari pertama.

2. Guru dan orang tua menyiapkan aturan dan segala kebutuhan untuk siswa. Antara lain: tentang tata cara membuat tugas, bagaimana kertas-kertas disiapkan dan lain-lain
3. Guru matematika menyediakan sebuah tulisan daftar aturan sebelum dia mulai pelajaran pada hari pertama. Dia kemudian meminta siswa untuk memberi masukan sebagai tambahan. Aturan-aturan tersebut diperlukan di kelas sehingga kelas sebagai tempat yang baik untuk belajar.

4. Setelah membuat peraturan sesuai dengan syarat-syarat yang benar, maka yang dilakukan selanjutnya adalah mengajarkan peraturan dan cara menjalankannya.

5.Peraturan dibuat sesuai tingkatan siswa.
Keteguhan seorang guru dapat membantu siswa dalam membangun tanggung jawabnya. Demokrasi seorang guru merupakan kemampuan guru dalam menggabungkan kepedulian dan keteguhan. Beberapa karakteristik dari sebuah demokrasi guru adalah : 1. Kelasnya teratur dan dibatasi oleh bangungan. 2. Siswa-siswa telah memelihara setiap aturan.
3. Dia menyediakan pimpinan pada keduanya yakni mematuhi perintah dan memandu pelajaran. 4. Dia menggunakan aktivitas belajarnya untuk mempromosikan sebuah suasana pada hak milik dan kepunyaan.

Contoh:
Penyusunan aturan pada mata pelajaran keterampilan dan ilmu Ilmu Pasti

– Pikirkan lingkungan fisik kamu dalam perencanaan tata cara dan aturan.

– Pada tingkat keenam guru menyusun kursi siswa karena itu mereka bertatap muka jauh dari jendela kelas. Pada saat itu siswa melakukan pembelajaran langsung ke lingkungan atau di lapangan.

– Untuk ilmu ukur, guru mempunyai memindahkan kegiatannya ke ruangan tamu karena ruangan itu tidak ditutup papan tulis.

– Menjelaskan kepada siswa tentang berkebiasaan dan tata cara kelas kamu.

Pencegahan masalah

– Karakteristik guru, guru efektif biasanya mempunyai tiga karakteristik umum, adalah: 1) Kepedulian, 2) Keteguhan, 3) Demokrasi

– Menciptakan sebuah keamanan dan melindungi lingkungan pembelajaran.
– Membantu pekerjaan sekolah dengan membuat suasana pembelajaran.



Demikian dalam hal belajar ada factor yang mempengaruhi efektifitas belajar Peserta didik yakni Lingkungan. Lingkungan merupakan bagian dari anak didik dalam lingkunganlah anak didik hidup dan berinterkasi dalam mata rantai kehidupan. Saling ketergantungan antara lingkungan biotik dan abiotik tidak dapat dihindari. Itulah hukum alam yang harus dihadapi oleh peserta didik sebagai makhluk hidup yang tergolong kelompok biotic. Dalam menciptakan belajar yang efektif berikut ini kami buat contoh peta unsure yang mempengaruhi bagaimana bisa tercipta diantaranya Lingkungan belajar yang efektif:


BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

1. Untuk mencapai tujuan belajar yang diharapkan maka di butuhkan suatu lingkungan belajar yang efektif, dengan begitu peserta didik dapat menikmati proses pembelajaran dan menghasilkan nilai yang baik.

B. Saran

Sebagai para calon pendidik maka kita harus mempersiapkan diri dan lebih lagi mendalami ilmu psikologi pendidikan agar memuadahkan dalam proses belajar mengajar kelak di kemudian hari, Dan mohon kritik serta sarannya dari saudara-saudari semua tentang penyusunan isi makalah ini, semoga bermanfaat untuk kita semua.




DAFTAR PUSTAKA



Purwanto M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, PT .Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000.

Syah. Muhibbin, Psikologi Belajar, PT./ RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2006.

Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar, Rineka Cipta, Jakarta, 2002.

Hasibuan dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, , PT .Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012.

Lingkungan Belajar berkualitas

https://martinis1960.wordpress.com/2011/02/04/lingkungan-belajar-berkualitas/ 23 februari 2015


[1] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, PT .Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar